Posted by: mekaraya | 8 September 2010

Untuk Kita Renungkan

sang pengais sampahMalam ini atau pagi ini tepatnya 8 September 2010 jam 12.50 ada suatu kejadian yang sepatutnya kita renungkan dan lakukan. Sore ini rencananya saya akan mudik ke kampung halaman, karena menurut kalender dikost-an saya dua hari kedepan umat islam akan merayakan sebuah kemenangan setelah satu bulan lamanya berpuasa, yup IDUL FITRI.

Suasana dikontrakan kala itu seperti halnya sebuah kapal pecah yang berserakan dan memaksa saya untuk merapikan walaupun rasa kantuk ini sudah tidak bisa ditolerir, tumpukan sampah yang menggunung tiga hari yang lalu saya kumpulkan menjadi satu, tidak lupa bekas makanan dan kue-kue dalam box ikut serta saya satukan. Setelah semuanya terkumpul bergegas saya pergi ke jalan raya untuk pergi ke tempat pembuangan sampah, butuh 5 menit jalan kaki untuk ke tempat pembuangan sampah itu. Setelah sampah saya buang ditempatnya kemudian saya mencari makanan dengan niat sekalian makan sahur dihari itu, kemudian saya membeli beberapa peralatan mandi mengingat semuanya sudah habis.

Ketika arah pulang saya menemui seorang pengais sampah sedang duduk diatas tembok tempat saya buang sampah tadi, betapa miris saya melihat seorang pengais sampah itu sedang memegang box yang tadi berisi makanan yang saya buang dan pengais sampah itu memakan kue-kuenya (kenapa saya begitu yakin dia memakan kue itu, karena ketika saya membuang sampah.! Sampah sebelumnya sudah diangkut petugas disore harinya dan tidak ada sampah selain sampah saya).

Ada sebuah pelajaran yang mengigatkan kita akan sesuatu hal, betapa kita terkadang selalu menyisakan beberapa sendok nasi dan lauk pauk diatas piring ketika kita makan, membuang begitu banyak makanan karena memasak yang berlebihan, padahal diluar sana mereka makan dari sampah yang orang lain buang, hanya untuk sekedar bertahan hidup tanpa memperdulikan gengsi apalagi kesehatan, yang mereka tau mereka bisa bertahan ditengah kerasnya cobaan hidup. Apakah kita masih merasa pantas ketika kita masih mampu makan dari makanan yang layak, tidur diatas tempat tidur yang layak, sementara kita terkadang masih suka berkata hidup ini tidak adil, sementara mereka merasakan pahitnya hidup dan ketidakadilan yang nyata.

Hidup ini memang tidak akan pernah adil, karena yang tau adil atau tidaknya buat kita hanyalah sang pencipta semata, Allah SWT. Tapi sepantasnyalah kita mampu bersyukur atas sesuatu yang Tuhan berikan kepada kita walaupun hal itu tidak seperti yang kita harapkan.


Responses

  1. great…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: